Dunia (ku) di balik awan putih.

"Karena aku mencintai kata-kata dan segalanya tentang imajinasi."


Seperti sudah saya bilang di warning, blog ini hanya mengupas sisi 'anak kecil' dari seorang manusia. Tak akan ada bahasan ilmiah mengenai mayor ilmu yang saya tekuni atau berita-berita aktual saat ini. Ketika kita dewasa, mungkin kita berpikir "betapa lucunya kita dulu: membuat blog dengan background film animasi, gambar tokoh imajinasi, dan tulisan2 yang sangat jujur dan kadang-kadang 'memalukan' "
Tapi saya dengan sangat bangga tetap mempertahankan blog ini sebagai sebuah bukti 'masa kecil' saya yang begitu indah, Alhamdulillah. -6 Maret 2011


Hey, feel free to visit my another more updated journal (blog) at http://diputsasa.tumblr.com :)

Kamis, Juni 02, 2011

A melancholic side of this self

After reading a blog of a person, I found that somehow it's similar to me.
The writing made a piece of melancholic side of myself emerges and it succeeded to push me writing these stuffs:

Sometimes I am afraid that I lost how it feels -the moment when we talk about our dreams.

It used to be late afternoon, or at night, that we guys sat around in the classroom after having a study (or a play?). Then we watched a video that told about the miracle of a dream.

Someone was so obsessed with the novel Edensor. Someone was so obsessed with the video. Then everybody started to tell something big, amazing, high, beautiful, and we called it, DREAM.

We used to say, "England, Japan, Korea, Dutch..."

Then everybody started to write 'sacred' words in a piece of paper and stick it behind the locker door, beside the bed, or on their tables. Hope that every time we read whatever written on those papers, we would be enthusiastic. Felt like we'll do everything everything everything to make our dreams come true. Felt like we are people who never hear something called 'tired'.

and now in this world we are separated.

Friends, if I could asked it directly in front of each of you, without a hesitate,
'Do you forget about those times?
 Does the spirit still live in your chest?'

Yes, someone told me that I am the one who never be tired of believing in dreams.

Hem.. taking a really deep breath. Now, each one of us knows that this world never serve an easy way to make our dreams come true. We understand that dream is not always big, amazing, high and beautiful, but it's hard, too high that sometimes we lost our ways to it.

But however it is, please, don't let me down. We all still believe in dreams, right?

Kamis, Mei 26, 2011

Kaki tanganmu sendiri

Sadarlah, tak ada yang bisa menolong nasibmu selain engkau sendiri. Saya bukan ibu peri dan tak siapapun.
Dan untuk hal yang seperti ini, sepertinya gunakan logika dan jangan pernah libatkan emosi.
-Stres tergantung pada bagaimana seseorang melihat sebuah kondisi -Sitoresmi

Oke, aku bahagia. Aku ikhlas. Aku tertawa.
Tapi ijinkan aku membuat satu keputusan:
GUNAKAN LOGIKA DAN SINGKIRKAN EMOSI UNTUK HAL-HAL SEPERTI INI.
Aku ingin hidup dengan damai.
Aku ingin menikmati semuanya.
Ini ego, dan setiap orang memilikinya.
Bahkan yang terjadi sekarang juga karena ego.

Yang pasti:
Berjuanglah dengan kaki tanganmu sendiri!

#note: pagi ini memutuskan tidak ikut kelas agama.

Sabtu, Mei 07, 2011

Jakal km 4,5

Berawal dari keinginan 4 anak rantau yang sedang mengikuti matrikulasi di Jogja. Sebenarnya tidak bisa dikatakan di kota Jogja, karena tempat matrikulasinya sendiri ada di lereng gunung Merapi, alias di Sleman, deket2 Kaliurang gitu. Tau kan lereng gunung itu gimana, dingin2, pelosok, ndeso. Wes pokoke jauh dari peradaban *gak segitunya kali dii*

Nah suatu hari libur *kalo gak Sabtu ya Ahad*, keempat bocah yang waktu matrikulasi ditakdirkan dapat kamar yang sama ini bermaksud menjadi bolang. Pertamanya sih cuma bermaksud tapi apakah benar2 menjadi kenyataan mari kita simak kisah selanjutnya.

Akses satu-satunya dari tempat matrikulasi yang ada di pelosok wilayah bernama Ngaglik ke kota Yogyakarta adalah melalui jalan provinsi bernama Jalan Kaliurang (Jakal). Jalan ini menghubungkan kota Yogyakarta sampai ke deket2 puncak Merapi. Kilometer Nol (Km 0) dari jalan ini terletak di Selatan, di bawah, alias di deket kota Yogyakarta. Sedangkan kilometer yg paling jauh (sekitar Km 25-an mungkin ya) terletak di lereng gunung deket puncak. Waw, jalan yang keren bukan. Dan yang paling keren adalah ada sebuah moda transportasi yang khusus melayani jalur di jalan ini berupa sebuah angkot desa *yang dari penampakan benar2 mencerminkan angkot desa yg kuno a.k.a rombengan*. Angkot ini bolak-balik dari Jakan Km 0 sampe Km paling jauh (gak tau pastinya km berapa) hanya untuk melayani orang2 yang mau turun gunung (dari Kaliurang ke Yogyakarta) atau orang2 yg mau naik gunung (dari Yogyakarta ke Kaliurang).

Tiga anak ini statusnya adalah ‘mau turun gunung’ alias mau ke bawah. (Jadi cuma bertiga karena yang satu lagi ada urusan gitu deh) Alasan utama mereka turun gunung karena..
“Sekali-kali lah kita shopping. Masa kamar kita doank yang kalo liburan cuma di kamaaaaar aja. Liat deh itu kamar2 lain pasti sepi kalo hari libur.”
“Heeem.. yaa okelah. Lagian aku mau beli something,” kata anggota kamar yang satunya.
“Boleh2, tapi kita mau kemana nih?” anggota kamar yg lain berkata.
“Ke marlbor kah?”
“Jangaan.. terlalu banyak tokonya. Ntar capek jalan doank trus ujung2nya gak beli apa2.”
“Yeee itu kan kamu. Trus kemana nih?”
“Hem.. bentar2. Kita cari info.”
Akhirnya setelah mencari info kemari kesana, mereka mendapatkan info daan..
“Mari kita ke Jakal km 4.5!”
“Mana tu? Kamu dah pernah ke sana belom?”
“Belom lah, ni aku dikasi tau temenku. Katanya ada toko2 juga kok.”
“Oh ya ya, trus kesana naik apa?”
“Naik angkot jakal aja, ntar tanya ama bapak sopirnya. Gimana?”
“Ooo.. yaaa.”

Berangkat lah mereka hari itu. Pertamanya dari penginapan matrikulasi ke Jalan Kaliurang, mereka harus berjalan sekitar 1 kilometer. Yaa kan sudah dibilang penginapannya di pelosok, jadi beginilah satu-satunya cara mencapai jalan raya tempat transportasi utama berlangsung.
Setelah berjuang dalam dahaga, akhirnya sampai juga di perempatan Besi. (Perempatan masuk ke desa itu)

Menunggulah mereka angkot desa menuju selatan. Sang angkot tiba dan mereka naik. Seperti biasa, angkot itu penuh. Setelah menyilakan ketiga anak yang ingin mengadu nasib itu naik ke dalamnya, sang angkot berjalan pelan-pelan dengan bunyinya *klontang klontang*. Benar-benar pelan, sehingga sangat terasa ketika ketiga anak tadi mengamati papan nama di depan setiap toko. Papan nama di depan toko-toko sepanjang JAKAL ini sangat berguna, apalagi bagi anak2 perantau yang henghong tentang daerah yang baru.
Jl. Kaliurang km 14
Jl. Kaliurang km 13.5
Jl. Kaliurang km 12
Jl. Kaliurang km 11

Haah.. lama banget..

Tiba2 pak sopir tanya: “Mau kemana mbak?”
Anak2 rantau: “Km 4,5 Pak. Masih jauh ya, Pak?”
Pak Sopir: “Mau kemana to mbak?”
Anak2 rantau: “Yaa mau ke km 4,5 Pak”
Pak Sopir: “….”

Ketiga anak itu menunggu lagi.. Mengamati papan-papan di depan toko di sepanjang jalan Kaliurang.

Jl. Kaliurang km 10
Jl. Kaliurang km 9,8
Jl. Kaliurang km 9

..

Tik tok tik tok

Orang-orang silih berganti naik dan turun angkot rombeng itu. Eh walopun rombeng tapi sungguh berjasa lho. Daripada naik taksi, udah cepet jadi gak bisa nikmatin jalan, mahal 900% pula (penulis pernah membuktikan), hayooo dan tidak mendukung gerakan ‘angkutan umum’. Apalagi buat orang2 tak punya alat transportasi dari atas gunung ke kota, atau dari kota ke atas gunung. Sehingga mungkin yang punya persero si angkot ini bilang, “Boleh2 aja lah ni angkot rombeng, yang penting masih ada aja yang mau naik. Xixixixixixi.” Huus gak boleh bersuudzon kan?

Dan ternyata teman2, angkot yang dinaiki ketiga anak itu sudah sampai di perempatan Kentungan a.k.a Jakal km 6,5. Dari jalan itu memang mulai terlihat toko-toko, warung makan dan restoran, ruko-ruko, dan yang lain2. Pokoknya mulai ada tanda-tanda kehidupan yang ramai. Dan ketiga anak ini ber-“positive thingking” jika mereka akan menemui tempat shoping yang indah di Jakal km 4,5 itu.

Maka angkot pun semakin sepi penumpangnya semakin ke bawah (ke Jakal km yang lebih sedikit). Hingga akhirnya mereka sampai ke UGM.

Pak Sopir bertanya lagi: “Mau kemana ini mbak?”
Ketiga penumpang angkot rombeng: “Jakal km 4,5 Pak”
Pak Sopir: “…”

Tiba-tiba angkot berhenti.

Pak Sopir: “Udah sampai ini mbak, Jakal km 4,5”
3 Penumpang angkot rombeng: “Haaa?”
Pak Sopir: “Iya mbak, lha mbaknya mau kemana?”
Ketiga penumpang itu berpandangan akhirnya mereka membayar dan turun dari angkot.
Angkot pun pergi lagi dengan meninggalkan kepulan debu hitam dari knalpot yang semakin merunyamkan wajah ketiga anak itu.
Ketika mereka turun dari angkot, maka yang mereka lihat di sisi kiri jalan adalah kompleks Balairung UGM, dan sebuah Papan di seberang jalan bertuliskan Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tanpa menemukan sebuah kompleks pertokoan yang indah sebagai tempat shopping.

*matrikulasi: sekolah sebelum kuliah

Selasa, April 05, 2011

*weird* talks

Seakan dunia ini, di status facebook, di timeline twitter, di postingan blog, di novel2 rak toko buku, di dalam hati manusia, kata-kata berbicara tentang: cinta. (ciee, hahahaha.)

Menurut pandangan saya, cinta itu sesuatu yang fragile- mudah pecah.
Seperti botol kaca.
Atau lebih tepatnya seperti pipet di praktikum kimia! Sangat-sangat-mudah-pecah.
(saya bersyukur tidak masuk ke jurusan yg ada praktikum kimianya, karena waktu SMA hampir selalu saja harus mengganti dengan uang alat2 praktikum yg sangat rapuh itu T_T)

Dalam pendapat masyarakat pada umumnya, menulis sesuatu tentang cinta adalah menulis sesuatu yg tak akan ada habisnya. Tapi saya lebih suka imajinasi yang keluar dari pendapat itu. Dulu ketika masih labil a.k.a jaman smp, menulis puisi dan cerpen bertema cinta menjadi salah satu hobi selain tema petualangan. Apalagi kalau tema cintanya ditulis dalam bentuk fanfiction hunter x hunter <3 Yaah bisa ditebak apa sih yang ada dalam pikiran anak smp tentang tokoh kartun kesukaannya ~.~

Ketika beranjak dewasa (sok dewasa nih), saya merasa geli jika harus menulis sebuah karya yang bertema cinta-cintaan. Hahahaha. Saya lebih suka tema pertemanan, atau perang.
Yaa pokoknya malu lah kalau menyangkut hal2 yg seperti itu. Ketika baca teenlit, saya nyengir aja, 'Heheheh, emang ada ya yang kayak begitu?'

Kalau bicara tentang cinta manusia, seharusnya ujung-ujungnya adalah ngomongin nikah.
Kata salah seorang guru saya semasa SMA, 'Kita akan menikah dengan orang yang bahkan belum pernah kita temui, belum pernah terpikirkan oleh kita sama sekali.'
Sejenak saat itu kelas menjadi sunyi, sepertinya teman2 sudah terbang dg pikiran alam masing2. Yang punya gebetan tuh pasti mikir, 'waah berarti bukan dia donk jodohku' Hehehehe, lucunya masa itu. Perkataan guru tercinta kami tersebut sungguh kontroversial dan mampu mewujudkan pertanyaan besar di kepala saya 'waaaah kalo gitu kayak apa ya jodohku nanti' hehehe.

Pada intinya cinta itu sesuatu yang rapuh-fragile-seperti botol kaca-seperti pipet. (ini pendapat pribadi mahasiswa lagi galau yang besok pagi dia harus ujian 2 makul, jadi harap tidak dijadikan referensi kartul atau laprak yah)

Karena jam digital di pojok kanan bawah desktop mulai menunjukkan pukul 00:50 dan malam di Jogja semakin dingin, maka mari kita pakai baju hangat dan kaus kaki yang tebal dan melanjutkan belajar karena nanti pagi aku harus ujian pab dan matematika 2 ~dan baru belajar sekarang! (taukah Anda apa kaitannya paragraf ini dg pembicaraan kita secara keseluruhan? jawabannya adalah: tidak ada! :D )

I've got a quote: I think of you as my friend, so please just be my friend and/or think of me as your sister, not less and not more :)

Senin, Maret 07, 2011

Sekumpulan cerita akhir pekan :)

Hai, hari ini Senin. Tapi sebelumnya aku ingin merangkum cerita2 seminggu yang lalu. Oke, kita mulai saja.

Hari Rabu, 2 Maret. 
Jurusanku sedang mengadakan kompetisi olahraga antar angkatan. Biasanya acara diadakan sore hari. Nah hari itu kuliahku selesai pukul 15.30, masih ada waktu untuk menunggu kompetisi 'street soccer female edition' yang dimulai pukul 17.00. Aku dan Adis-temanku memutuskan untuk pulang dulu, sholat ashar, ganti baju olahraga, dan sebagainya dan sebagainya. Oke, jam 16.50 Adis sms aku katanya dia udah nunggu di jalan raya depan kosku. Sebagai info, aku ke kampus nebeng si Adis. Sampai di tempat penungguan, dengan semangat 2011 aku segera naik di jok belakang motor Adis. Adis segera memacu motornya namun saat itu lampu lalin sedang merah dan sebagai mahasiswa teknik sipil yg baik kami harus mematuhi sistem transportasi yang ada, sehingga kami pun dengan sabar berhenti di lampu merah yang lamanya minta ampun itu. Aku sedang asik dengan hapeku, membalas sms dari teman2 ketika peristiwa itu terjadi.

Pengendara Asing: (tiba-tiba nanya) Mau kemana dek?
Aku: Ke kampus (asik dg hape, sempet nengok dikit doank tapi gak terlalu perhatian)
Pengendara Asing: Kok gak pake helm?
Aku: cengok utk beberapa detik, dan saat aku menoleh utk menjawab pertanyaan 'siapa sih ini orang, nanya2' yg melintas di benakku, lalu- olala~ kamu tahu, ternyata orang itu adalah pak polisi!
Polisi: Mau kemana? (mungkin dia bahagia aku nyadar kalo dia polisi :3 )
Aku: Mau ke kampus, Pak. Saya naik di sini kok, ini juga cuma nebeng, Pak. (menjawab dg nada sesantai mungkin, kayak gak punya dosa. hahaha, gaya andalan banget.)
Polisi: Kampusnya mana?
Aku: Ini, depan ini belok kanan. Deket kok, Pak. (masih nyante banget, sms-an pula. padahal dalam hati -> 'gawat, pak polisi, mati ini!' Si Adis pun diam seribu bahasa, mungkin dlm hatinya, "Ini lampu merah -damn- lama banget")
Polisi: Bener belok kanan?
Aku: Iyo, bener.
Polisi: Kalau lebih dari kampus, adek ikut saya. Saya awasi, kalo lebih kampus, ikut saya.
Aku: Iya kok, Pak. Bener. Cuma ke kampus.

dan akhirnya lampu pun hijau. Adis langsung memacu motor mio putihnya sekenceng mungkin dan aku cuma bisa melengos. Hahaha :D
Itu adalah kejadian pertama.

Kejadian kedua, Kamis 3 Maret, pulang kuliah jam 17.00 an.
Duit di dompet bener2 udah habis. Yang tersisa adalah recehan yang kalo dihitung cuma 2.200 rupiah. Duit BLT belom turun, alhasil aku berniat ambil uang lewat kartu BSM. Sekali kumasukin password, gagal. Si mesin ATM cuma bilang katanya kartu sedang tidak bisa digunakan. Kuulangi lagi, gak bisa juga. Hingga tiga kali! Akhirnya aku telepon Mama minta dikirimkan uang tambahan ke ATM BLT a.k.a ATM M*ndiri. Setelah ditunggu, ternyata M*ndiri baru offline. Baguuss! Kere lah sudah aku hari itu, terancam gak bisa makan malam. 2.200 bisa buat beli apa?
Hem, setelah memutar otak akhirnya aku punya ide -> Jual Pulsa. Maksudku, adekku kan jual pulsa elektronik, terus aku sms semua temen2 yang kosnya deket, siapa yg butuh pulsa bisa beli ke adekku tapi bayarnya ke aku dulu. Senggaknya aku ada duit lah, untuk makan malam dan besok pagi. Setelah sms beribu2 orang (*lebay), ada juga sepertinya yg kasihan. Soalnya aku bener2 bilang di sms itu 'tolonglah saya tdk punya uang lagi ini', hehehe. Setelah mendapatkan pelanggan, aku segera menjemput uang2 itu, dan pergilah aku bersama seorang teman untuk membeli lauk makan malam (FYI: aku selalu memasak nasi sendiri di kamar, biar nasinya bisa banyak :D)

-Uang yang aku dapat hari itu tidak begitu banyak, hanya cukup utk 2 hari makan dan kemungkinan uang BLT masih berhari-hari lagi turunnya. Namun bagaimanapun aku bersyukur, ada hal yang sangat berarti aku pelajari hari itu: aku merasakan bagaimana menjadi mereka yang setiap hari harus bekerja dulu, seharian, hanya untuk bisa mendapat sesuap nasi, sesuap makan malam, tanpa mengetahui apalagi yang dimakan besok. ya Allah, terimakasih atas pelajaran-Mu hari ini.

Kejadian ketiga, hari Jum'at, 4 Maret, pukul 11.00 an.
Selesai kuliah PGT, aku pulang ke kos lagi untuk sarapan duha, hehe. Di tengah perjalanan kakiku yang sangat kunikmati itu, sayup2 seseorang memanggilku, "Nak.. nak.."
Kukira setan apa di siang2 bolong begini, ternyata itu adalah seorang nenek2 tua, sangat tua.
Nenek itu menghampiriku. Dengan mata berkaca-kaca ia mulai bercerita.
Nenek: (pake bahasa jawa) Nak.. tolong nenek, nak..
Aku: (paka bahasa jawa kromo, walo belepotan, duh!) Iya, ada apa, Nek?
Nenek: Nenek habis pergi ke tempat kerja anak Nenek, tapi ternyata dia udah pindah.
Aku: Emang anak Nenek kerja dimana? (sense kasih sayangku muncul, *cuih!)
Nenek: Di rumah makan di jalan itu. Nenek mau pulang ke rumah Nenek di Purwodadi, tapi gak tau naik apa. Naik bus apa, kemana.
Aku: (haduh, parah, aku gak tau apa2 masalah ini, gimana yaa.. *memutar otak*) Nenek tunggu aja, saya tanyakan orang dulu, saya juga gak tau. Aku masih mikir, tiba2 si Nenek nyeletuk.
Nenek: Lha nak rumahnya mana?
Aku: Saya sih kos, Nek. Tapi rumah saya di Solo. (saat ini aku punya pikiran untuk membawa si Nenek ke kosku dulu, lalu baru cari informasi. Tapi mana mungkin aku bawa orang asing ke kamar, mana di kamar kan banyak barang2 berhargaku -si laptop sayang dsb. hehe)
Nenek: Nanti Nenek lewat Solo juga, baru ke Purwodadi.
Aku: (dalam hati: trus apa hubungannya? Neneknya aneh *mulai curiga*) Masalahnya saya juga bener2 gak tau kalo ke Purwodadi naik apa, Nek.
Nenek: Ya udah, nak, Nenek minta sangu tambah aja. Uang Nenek tinggal 11ribu. Tolonglah bantu Nenek secukupnya biar bisa pulang ke Purwodadi.
Aku: (Waduh, ya Allah, padahal duitku tinggal belasan ribu, mana ATM gak bisa diandalin dua2nya. Gimana ini?)

Bukan mau pamer, teman2, tapi rasa kasihan itu mudah sekali timbul di hatiku, yang akhirnya aku berikan saja 80% uang yang ada di dompetku kepada sang Nenek. Walau itu sudah semuanya, tapi aku sadar kalo itu belom cukup buat ongkos ke Purwodadi.
Si Nenek berterimakasih dan aku pun pulang ke kos.

Sampai di kos, aku mengambil sepeda dan berniat ke tempat seorang teman untuk mengambil uang bayar pulsa nya. Setelah dari kos temenku, aku langsung pulang ke kos. Dan di perjalanan itu, aku melihat sang Nenek yang tadi, sedang duduk di depan sebuah bekas toko yang sudah ditutup. Dan dengan jelas aku melihat sebatang rokok di sela2 jarinya. Aku lupa rokok itu menyala atau tidak, yang pasti, what the fuck!

-sekali lagi, ya Allah terima kasih telah membuat ATMku keblokir, duit BLT belom turun, dan aku lagi kere2nya saat itu, jadi jurus Nenek2 penipu itu gak mempan di aku. hohoho.

Oke, dari 3 peristiwa di atas ada rangkuman pelajaran yang bisa aku petik:
1. Pakailah helm kemana pun kau pergi,
2. Telitilah mengecek jumlah sisa uang di ATM, apakah ATM mu keblokir atau gak, untuk memastikan tetap ada cadangan jika dompet benar-benar kosong,
3. Habiskan makananmu, dan berjuanglah demi orang-orang yang 'belum beruntung',
4. Jangan berikan bantuan berupa uang kepada orang-orang tak dikenal yang datang meminta bantuan kepadamu, lebih baik bantu dengan pikiran atau tenaga,
5. Berlindunglah kepada Tuhan Yang Menciptakan Langit dan Bumi seisinya dari segala kejahatan yang ada di bumi ini :)

Sekarang saatnya tidur bagiku, selamat malam, oyasuminasai~

Minggu, Maret 06, 2011

Mellow awakening *judul yg aneh sekali

Aku terbangun dan menyadari semuanya- sepi.

Yang terdengar hanya sayup2 deru mobil di jalanan.

Kulihat handphone, jam 17.40

Ash, berapa jam sudah aku tidur? Kurasa aku jatuh tidur mulai jam 14.00 lebih.

Aku mencoba mencari2 suara lain, tidak ada!

Sepi itu akhirnya mengunciku di atas tempat tidur.

Tidak mungkin bagiku melanjutkan tidur! Itu telah menjadi tidur siang terpanjangku selama di kos.

Berikut analisisku mengapa semuanya terasa begitu sepi:

1. Beberapa hari sebelumnya, setiap sore kosku selalu dipakai tempat rapat oleh teman2, dan sungguh rasa yg sangat menyedihkan mengetahui tak ada lagi teman2 yg bermain sore ini :'(

2. Aku tak menyalakan radio atau pemutar mp3 yg biasanya kujadikan andalan pengusir sepi,

3. Tidak ada tugas yang mepet deadline! (kusadari bahwa tugas ber-deadline merupakan SENJATA UTAMA PENGUSIR SEPI)

Sepi- tidak mungkin tidur lagi- tiba2 menjadi sangat rindu rumah :'(

Jumat, Januari 21, 2011

Ada yang mati.

Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Sabtu, 15 Januari 2011.
Saya menghadiri liqo universitas yang pertama kalinya. Bertempat di Masjid Kampus -gak terlalu jauh- sehingga bisa dicapai dengan menggowes sepeda :D

Tibalah sesi materi oleh mbak mentor. Tema hari itu adalah 'Mengenali diri sendiri'. [Bahasa inggrisnya: 'About me', hmm.. sering liat kata2 ini di jejaring sosial :)]

Sungguh menohok saat mbak mentor mengatakan: "Karena Adi Putri baru pertama kali datang, sekarang coba deskripsikan bagaimana pribadi Adi Putri."

.....
Apa.. pribadi seorang Adi Putri?
Pribadiku..? Aku orang yang bagaimana..??
Aku membisu. Hanya sifat-sifat manusia pada umumnya yang aku sebutkan.
Hingga aku pun tak sadar berkata: "Sudah lama sekali saya gak ngobrol masalah psikologi seperti ini."
Bahkan tak pernah tersempatkan hanya untuk bertanya pada hati sendiri: Bagaimana kabarmu?

Ketika mbak mentor menanyakan pribadiku seperti apa, bukankah itu sama dengan ia menanyakan isi kotak 'About Me' ku di jejaring sosialku?
Yeah, bahkan sekarang kotak 'About Me' ku saja tidak ku pasang di profil! Karena aku tak tahu aku sendiri seperti apa, bagaimana aku bisa bercerita tentang aku. Aku kehilangan aku.


Tidak seperti jaman ketika aku masih di sekolah menengah dulu. Sering tersisa waktu kosong untuk mencoret-coret kertas, merangkai kata. Tetapi bukan sekedar mencoret, aku senang mendeskripsikan 'bagaimana aku' di atas kertas itu. Karena biasanya tulisan di kertas itulah yang kupasang di kotak 'About Me' di profil jejaring sosial. Waktu itu keidealisanku membara, sehingga aku menginginkan kotak 'About Me' benar-benar menggambarkan aku yang sebenarnya.

Tapi itu dulu.. 
oh Tuhanku yang Maha Membolak-Balikkan Hati, apa yang terjadi?


Mengenali diri sendiri. Seorang ahli strategi perang dari Timur pernah berkata:
Seseorang yang tidak mengenali dirinya tetapi mengenali musuhnya, ia kalah.
Seseorang yang mengenali dirinya tetapi tidak mengenali musuhnya, ia mungkin menang.
Seseorang yang mengenali dirinya dan mengenali musuhnya, ia menang.

Rutinitas yang sekuler, mampu mematikan hati perlahan-lahan dengan tidak mengijinkan setitik hujan pun turun untuk menyejukkan hati. Padahal, hati adalah kunci segalanya. Kunci kepada Pencipta.

Kalau hati mati, bagaimana bisa mendekat ke Pencipta?



Mari mencari cara agar hujan itu kembali turun  ke lembah hati.





Mencari: Grave of The Fireflies

WANTED:
Anime produksi Studi Ghibli.
GRAVE of THE FIREFLIES.

Berdasar komen-komen yang saya baca, mereka bilang kalau efek 'sendu' akibat film ini akan berlangsung dalam waktu yang lama. Padahal saya baru saja akan menghadapi liburan [waktu nya senang]. Tidak apa, saya ingin melihat sesuatu yang berbeda, saya ingin menghidupkan hati saya lagi.

Sepertinya ia sudah lama mati, karena terlalu sibuk oleh hal-hal tak berperasaan dan 100% logika.

Rabu, November 10, 2010

Flashback: Math vs Eruption

Wew, saya bukan sedang jadi wartawan letusan Merapi. Saya cuma sedikit berbagi tentang hal2 yang terjadi di sekitar saya saat itu. Bagaimanapun, yang saya lakukan termasuk dari bagian 'kejadian yang ada ketika Merapi meletus saat itu'. Apakah Anda menangkap maksud saya? Terdengar terlalu filosofis, ya. Mari saya ceritakan.

Malam hari, 26 Oktober 2010.

Ketika letusan pertama terjadi, besok aku ada ujian Matematika. Dan tanganku yang malam itu berusaha mengurai soal matematika ke dalam jawabannya, hanya mampu bergetar.

Info yang menyebutkan bahwa akan ada hujan abu lebat membuatku mengalihkan perhatian dari buku matematika ke: MENUTUP VENTILASI. Karena di kamarku ada 6 lubang ventilasi kotak dg masing2 berukuran sekitar 25x20 cm. Dan semuanya langsung berhubungan dengan udara bebas, maka untuk menghindari masuknya abu ke dalam kamar, satu-satunya jalan adalah dengan menutupnya! [FYI- ventilasi2 ini merupakan permintaanku sendiri, biar gak perlu kipas angin ^_^]

Menutup ventilasi sebesar itu? Dengan apa?

Mendapat sebuah ilham, mataku menangkap seonggok milimeter block yang kupakai untuk tugas struktur bangunan. Jadilah kukorbankan dirinya. Baik kertas yg sudah aku gambari maupun yg masih mulus dan gres. Sret, sret!

Aku harus menyusun beberapa tumpuk buku-buku tebal di atas kursi agar mampu mencapai lubang ventilasi itu.
Setelah semua selesai, aku belum mampu juga untuk tenang. Sirine kudengar berkali2 dari arah jalan raya. Ah~ dan Matematika masih menghantuiku. Ku sms Mama, tak juga dibalas. Untung temanku Dayinta mau meneleponku cukup lama.

Willy nilly, aku harus tidur utk persiapan ujian Matematika pukul 08.00 esok harinya..

Dan kau tau, tentu saja, 'Dalam situasi apapun, ketika tubuhku ini sudah menyentuh tempat tidur, tak ada 1 menit maka kau akan dapati aku bagai putri tidur yg baru saja memakan buah apel beracun.. Pulas sekali :)'

Senin, November 08, 2010

On a night when it errupted

Akan kuceritakan kejadian malam itu. Dini hari Jum'at, 5 Oktober 2010..

Aku tiba2 terjaga. Hal pertama yg dilakukan ketika bangun dari tidur adalah: melihat jam di HP.
Oh, 00.4x [seingat saya]. FYI, tadi jam 21.00an temanku main ke kamar, dan aku ngantuk. [Pelajaran: tolong ketahui kondisi sang tuan kamar kalau kalian main ke kamar orang!] Akhirnya kutinggal saja dia dengan laptopku, dan aku pergi ke alam mimpi.

Satu sms kubaca di HP-ku: 'Ada ujan kerikil lho.' Waw, hujan kerikil, ada apakah gerangan? Aku segera ke teras, menengadahkan tanganku ke ujung teritis. Kurasa tidak ada apa2. Mungkin sesi hujan kerikil sudah selesai.

Aku kembali ke kamar, sayup2 kudengar gemuruh dari langit- dan sirine mobil polisi serta ambulan. Hmm, aku harus mengecek berita! Segera kunyalakan laptop dan menghubungkannya ke internet. Tr*bb*nn*ws.com, kutemukan sebuah situs yg bisa jadi rujukan karena beritanya update tiap beberapa menit.

Masya Allah... ternyata.. Gunung itu baru saja meletus lagi!!

Dan radiusnya.. radius amannya sudah 20km!! Oh, jarak puncak Merapi ke daerah kosanku sekitar 26 km. Dan kalau radius aman saja sudah 20 km, tinggal 6 km lagi sampai aku harus mengungsi!!
Satu lagi informasi yang menarik menurutku saat itu adalah: ternyata gemuruh yang aku dengar sejak malam tadi adalah gemuruh Merapi, selain gemuruh langit yang hendak hujan. Dan yang terakhir, gemuruh yg terjadi dini hari tersebut berhasil membuat jendela bergetar.

Astaghfirullah.. sebegitu parahnya kah?

Tapi Alhamdulillah entah kenapa, aku gak begitu ketakutan seperti letusan pertama tanggal 26 Oktober.
Sirine dan gemuruh menemaniku update berita dari internet. Kakak-kakak kosku mulai ramai [Tumben jam segini udah ramai]. Aku malah dapet mainan baru di facebook *loh?? Taukah kau semalaman itu, di samping ransel darurat, aku malah main MallWorld sambil chatting ma temen di fb- SAMPAI PAGI!! [Tobatlah, kau, Adi!] Aku lagi gak bisa sholat -,- jadilah seperti itu.

Aku berniat pulang pagi-pagi sekali Jum'at itu! UTS selesai, yay! Dan Jogja semakin mencekam, tapi semuanya berubah ketika..

03.00, 1 sms received: 'Di, kita kumpul di kos kamu buat himpun bantuan utk korban Merapi.'
[hmm..] Reply: 'Aku mau pulang, gimana?'
Read: 'Tapi tempat kamu yg paling strategis, di.'
Reply: 'OK' .... to be continued